Opini : Filsafat Bagi Kehidupan Manusia

      Ketika seseorang mendengar kata ''filsafat", sering kali yang terbayang adalah sesuatu yang aneh, angker, absurd, atau membingungkan. Filsafat sering kali dikaitkan dengan model - model pemikiran yang rumit, penuh digenangi dengan istilah - istilah yang khas bersifat abstrak, sehingga sulit di pahami. Ada anggapan bahwa pemikiran filsafat berada di langit yang menjulang tinggi, seperti juga sekelompok orang yang berada di menara gading. Ya, filsafat kadang - kadang di labelkan sebagai sesuatu bentuk elitisme.

Anggapan - anggapan yang seperti itu bisa jadi memang bersumber dari suatu kesalahpahaman orang terhadap filsafat itu sendiri. Persoalan ketegangan pembentukan citra terhadap filsafat ini mungkin memang tak akan pernah berakhir. Akan tetapi, ada satu hal sebenarnya cukup menarik dan bersifat mendasar berhubungan dengan hal ini, yakni pertanyaan mengapa kita (harus) berfilsafat ? Apa kekhasan corak berfikir filsafati sehingga ada orang - orang yng sabar dan tekun masuk dalam model pemikiran ini ? Dengan pertanyaan - pertanyaan seperti ini, sebenarnya secara tidak langsung orang yang ditanya dan juga diri kita sudah diajak berfilsafat. Berfilsafat dalam pengertian yang paling sederhana, yakni dalam konteks ini, adalah usaha merumuskan dan menjawab pertanyaan - pertanyaan mendasar perihal sesuatu hal.

Filsafat menurut kata yang sebenarnya adalah cinta akan kebijaksanaan dan karena itu filsafat seharusnya lebih dilihat sebagai pandangan hidup bagaimana seseorang manusia memandang dunianya, berfikir dan memahami dunia dan lingkungannya dan sebagai ia menata hidupnya dalam dan bersama dengan dunianya. Filsafat juga dilihat sebagai ilmu yang membutuhkan refleksi dan pemikiran sistematis metodis dengan cara aktif menggunakan intelek dan rasio kita. Namun filsafat sebagai pandangan hidup dan sebagai ilmu tidak terpisah satu sama lain, melainkan berkaitan sangat erat, malahan saling memuat dan mencakup melalui karya rasional yang abstrak - spekulatif namun pada alam kosmis yang konkret dan riil ini.

Opini oleh : Rita Igus Riyani
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Cirebon

Tidak ada komentar