Opini : Apakah Pendidikan Bisa Menjadi Identitas Negara Indonesia ?

         Manusia memiliki berbagai dimensi dasar, potensi dasar atau bawaan manusia, sehingga disadari atau tidak, manusia telah mengembangkan potensi tersebut, baik secara maksimal atau tidak, dengan baik atau buruk. Semoga tergantung kondisi lingkungan yang mempengaruhi manusia tersebut. Adapun hak kita sebagai manusia yaitu mendapatkan tunjangan pendidikan. Namun apakah tunjangan pendidikan sudah secara adil dilakukan oleh Negara Indonesia? Mungkin kalianpun tidak menjawab tidak. Kenapa demikian, karena pendidikan dinegara kita selalu didasari oleh seseorang yang mempunyai kelipatan uang kertas yang menjulang tinggi tanpa menoleh mereka yang hanya tercecerkan uang logam disakunya. Begitu minim kesempatan bagi mereka yang hanya mampu mengantarkan angannya hanya dengan bukti kosong. Adapun faktor pemerintah yang kurang memperhatikan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, tanpa mereka terlebih dahulu menjulurkan tangannya.

          Pendidikan dapat disalurkan melalui lingkungan sekolah. Sekolah adalah satuan (Unit) sosial atau lembaga sosial yang secara sengaja dibangun dengan kekhususan tugasnya untuk melaksanakan proses pendidikan (Odong Muchtar, 1991). Pendidikan di sekolah  memiliki kontribusi yang besar terhadap pembentukan kemampuan dan pengalaman manusia. Sekolah atau sering juga disebut satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada jenjang dan jenis pendidikan.

           Fungsi Sekolah sendiri yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan serta peradaban bangsa. Terdapat pula pengembangan pola pikir, kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak - anak berfikir, yaitu jangan selalu "Dipelopori" atau disuruh mengaku buah pikiran orang lain akan tetapi biasakanlah anak - anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri ( Ki Hadjar Dewantara, taman siswa 30. Tahun 1922 - 1952). Adanya peserta didik pasti adapula pendidik yang berperan langsung dalam proses pendidikan tersebut, yaitu adanya seorang guru. Perjuangan, inovasi dan kreasi para guru untuk memajukan pendidikan bangsa ini harus kita dukung sepenuhnya karena guru adalah sebagai contoh panutan bagi para murid. Maka guru yang baik tidak pernah bilang muridnya bodoh; tapi guru yang baik selalu bilang, "Muridku Belum Biasa". Apa yang ingin dipelajari murid, sama pentingnya dengan apa yang ingin diajarkan Guru (Lois E. LeBar) . Tahapan pendidikan bagi manusia, yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

            Nah, begitu besar nilai yang harus menjadi tanggungan orang tua untuk membiayai sekolah kanaknya. Balasan atas jumlah keseluruhan biaya tersebut kita hanya cukup membalasnya dengan kata "SUKSES" namun apakah masih ada harapan kata seperti itu bagi masyarakat kecil ?. Bantuan program seperti bantuan operasional sekolah (BOS) tidak terealistaskan secara adil, buktinya masih ada daerah perbatasan seperti halnya pendidikan di Papuan, khususnya di daerah - daerah pelosok Papua Tengah. Masalah - masalah tersebut antara lain seperti fasilitas dan tenaga pengajar yang minim, tenaga pengajar yang jarang mengajar, serta sarana dan prasarana yang kurang optimal. Fakta mengungkapkan bahwa terdapat "labelling" ada uang ada barang. Dalam kontek ini, barang yang dimaksud adalah ijazah. Wajar saja apa bila di Negara Indonesia banyak pekerja yang tidak mempersyaratkan ijazah Perguruan Tinggi karena tidak berbagai variasi kelulusan mereka.

             Itupun hanya orang yang mampu membayarnya. Namun untuk para fakir miskin, untuk persediaan pangan kesehariannya saja dia berkecukupan dan itupun hanya dengan lauk pauk yang sederhana. Sekilas pertanyaan, mengapa di Negara kita tidak seperti program pendidikan yang berada di Arab Saudi bahwa pendidikan di Negara tersebut gratis dari Tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Maka jika di Negara Indonesia seperti Negara Arab Saudi tersebut akan membantu mereka yang ingin merasakan bangku sekolah yang benar - benar gratis di tanggung Pemerintah. Dan Indonesiapun akan menjadi Negara yang beridentitaskan pendidikan.

Opini ini dikirim oleh : Santika Febriana
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Cirebon

Tidak ada komentar